Aktris Fan Bingbing tampil di karpet merah Marie Claire Asia Star Awards 2026 di Busan, Korea Selatan, dengan gaun couture merah muda karya desainer Indonesia, Yogie Pratama. Hadir sebagai presenter, ia memilih tampilan yang lembut dan romantis, berbeda dari kesan dramatis yang kerap melekat pada busana karpet merah.
Gaun tersebut memadukan aplikasi bunga tiga dimensi dengan teknik draping yang mengikuti siluet tubuh. Detail floral berukuran besar terkumpul di sekitar garis leher dan pinggul, menjadi pusat perhatian sekaligus memberi dimensi pada rancangan berwarna pink lembut itu.
Detail bunga dan draping menjadi fokus gaun
Pilihan warna dan konstruksi gaun menghadirkan keseimbangan antara dekorasi yang kaya dan bentuk yang ringan. Bunga tiga dimensi memberi aksen tegas, sementara material yang jatuh mengikuti tubuh menjaga keseluruhan tampilan tetap lembut. Perpaduan ini membuat busana tidak hanya bertumpu pada ornamen, tetapi juga pada cara kain membentuk siluet.
Nuansa floral memberi kesan vintage couture, sedangkan draping menghadirkan alur yang anggun. Penempatan bunga di dua area—garis leher dan pinggul—mengarahkan perhatian pada bentuk rancangan tanpa membuat detail dekoratif tersebar di seluruh gaun. Hasilnya, unsur romantis tetap terasa, tetapi desain masih memiliki karakter yang kuat.
Dalam penampilannya sebagai presenter, Fan mengenakan gaun tersebut sebagai pilihan yang lebih feminin ketimbang busana dengan kesan megah dan dramatis. Warna merah muda yang lembut dan aplikasi bunga menjadi dua elemen utama yang membangun kesan itu. Keduanya bekerja bersama dengan teknik draping untuk menghasilkan tampilan yang elegan.
Rancangan Yogie Pratama berangkat dari gaya 1950-an
Gaun yang dikenakan Fan merupakan bagian dari koleksi Yogie Pratama yang ditampilkan dalam Langham Fashion Soiree 2026 di Jakarta pada Agustus lalu. Dalam keterangan tertulis, Yogie menyebut koleksi tersebut berangkat dari interpretasi modern terhadap gaya busana era 1950-an.
Bagi Yogie, dekade itu merepresentasikan salah satu periode dengan kaidah estetika yang sangat kuat. Ia menyoroti perpaduan sejumlah elemen, mulai dari tatanan rambut dan rias wajah hingga siluet busana yang membentuk lekuk tubuh menyerupai jam pasir. Keseluruhan unsur itu, menurutnya, menggambarkan perempuan yang elegan, percaya diri, dan berkelas.
Pengaruh era tersebut terlihat pada pilihan siluet dan kesan feminin yang dibangun gaun Fan. Namun, rancangan ini tidak berhenti pada rujukan masa lalu. Aplikasi bunga tiga dimensi dan permainan draping menjadi bagian dari interpretasi yang memberi bentuk lebih kontemporer pada inspirasi vintage tersebut.
Gaun couture Indonesia tampil di panggung Busan
Kehadiran gaun Yogie Pratama di acara penghargaan internasional di Busan mempertemukan karya desainer Indonesia dengan penampilan bintang film Asia. Di sisi desain, gaun itu menunjukkan bagaimana detail dekoratif yang padat dapat dipadukan dengan material yang jatuh lembut. Kuncinya terletak pada penempatan ornamen dan pengolahan siluet, bukan semata pada banyaknya hiasan.
Pilihan Fan juga memperlihatkan bahwa busana karpet merah dapat membangun kesan kuat melalui pendekatan yang berbeda. Alih-alih mengandalkan bentuk yang serba dramatis, rancangan ini menonjolkan romantisme lewat warna, bunga, dan draping. Unsur-unsur tersebut menyatu dalam tampilan yang tetap memiliki identitas couture.
Dari koleksi yang diperkenalkan di Jakarta hingga dikenakan Fan di Busan, gaun ini membawa interpretasi Yogie atas estetika 1950-an ke panggung yang lebih luas. Perjalanan sebuah rancangan dari peragaan hingga karpet merah turut membuka ruang bagi karya desainer Indonesia untuk dikenal melalui momen-momen internasional berikutnya.