Rakyat Memantau Setiap Kejadian Di Negara

Ekonomi

Danantara Siapkan Rp 17,89 Triliun untuk Pasar Saham

Danantara menyiapkan dana hingga US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,89 triliun untuk berinvestasi di pasar modal domestik sampai akhir 2026. Badan Pengelola Investasi itu membuka kemungkinan membeli saham saat pasar tertekan, tetapi menegaskan setiap keputusan akan bergantung pada hasil uji tuntas dan nilai investasi.

Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management Rani Piputri mengatakan lembaganya dapat mempertimbangkan langkah tersebut jika tekanan pasar dinilai bersumber dari sentimen eksternal yang hanya bersifat sementara. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara yang dikutip Reuters, Sabtu (10/10/2026).

Kesiapan Danantara muncul di tengah risiko pelemahan pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali tertekan jika MSCI menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia bulan depan, setelah sebelumnya peringatan lembaga itu memicu aksi jual.

Danantara pertimbangkan kondisi pasar dan nilai saham

Rani menyatakan Danantara mungkin turun tangan apabila gejolak pasar terjadi karena faktor eksternal sementara. Namun, pernyataan itu bukan janji bahwa lembaga tersebut akan otomatis membeli saham setiap kali IHSG melemah.

“Jika terjadi krisis di pasar, dan kami merasa bahwa itu hanya berdasarkan sentimen eksternal yang bersifat sementara, maka kami mungkin akan turun tangan,” ujar Rani, dikutip dari Reuters.

Ia menambahkan, kemungkinan masuk ke pasar tetap harus melewati banyak pemeriksaan. Danantara juga perlu menilai apakah harga aset mencerminkan peluang investasi yang layak sebelum mengambil keputusan.

“Kami mungkin akan turun tangan. Mungkin saja, tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan,” tutur Rani.

Rani menjelaskan Danantara mulai mengalokasikan dana untuk investasi di pasar modal domestik sejak akhir tahun lalu. Investasi tetap berjalan ketika IHSG mendapat tekanan aksi jual setelah peringatan MSCI pada Januari. Lembaga itu pun terbuka untuk kembali berinvestasi jika klasifikasi Indonesia berubah bulan depan.

Meski berpotensi memberi sentimen positif, keputusan Danantara bukan semata-mata ditujukan untuk menahan penurunan indeks. Rani mengatakan pembelian yang dilakukan pada awal tahun didasarkan pada penilaian bahwa sejumlah aset memiliki nilai menarik.

Dana investasi dan komposisi portofolio

“Kami membeli karena kami melihat nilai. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar,” kata Rani. Menurut dia, ketika investor lain kurang menyukai suatu aset, Danantara dapat memperoleh aset itu dengan harga yang lebih baik. Aset tersebut bisa dijual kembali ketika minat pasar meningkat.

Danantara saat ini telah mengalokasikan sekitar US$ 3 miliar atau setara Rp 53,67 triliun untuk investasi saham dan obligasi, baik di dalam maupun luar negeri. Dana hingga US$ 1 miliar yang disiapkan untuk pasar domestik merupakan bagian dari rencana investasi sampai akhir 2026.

Badan pengelola tersebut memegang mandat untuk mengelola aset negara sekitar US$ 900 miliar yang tersebar di lebih dari 1.000 perusahaan. Danantara juga memiliki kewenangan memanfaatkan dividen untuk mengoptimalkan hasil investasi.

Portofolio dana yang dikelola terdiri atas 65 persen saham, 30 persen instrumen pendapatan tetap, dan 5 persen dana lindung nilai atau hedge fund. Sekitar seperempat dari keseluruhan portofolio ditempatkan di Indonesia.

Managing Director Global Relations & Communications BPI Danantara Pahala Mansury mengatakan dana yang dikelola ditargetkan menghasilkan imbal hasil 200–300 basis poin di atas biaya modal. Sebagai pembanding, biaya modal Danantara tercermin dari obligasi dolar AS bertenor lima tahun yang diterbitkan pada Juni lalu dengan imbal hasil 5,35 persen.

Eksposur AI dan dividen masih dibahas

Rani juga menyebut Danantara berhati-hati dalam menambah eksposur pada sektor kecerdasan buatan atau AI. Ia tidak menilai AI sebagai gelembung yang akan segera pecah, tetapi mengatakan lembaganya ingin cermat karena merasa terlambat memasuki bidang tersebut.

Menurut Rani, pembicaraan mengenai kemungkinan gelembung dapat membantu menjaga pasar tetap terkendali. Jika semua investor menganggap AI sebagai investasi yang baik, kata dia, hal itu justru dapat menjadi persoalan.

Di sisi lain, rencana penyetoran dividen Rp 120 triliun kepada pemerintah tahun ini masih berpotensi berubah. Pahala mengatakan Danantara sedang membahas persoalan tersebut dengan Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Indikasi sementara yang diterima lembaga itu, dividen masih dapat dikelola, tetapi keputusan akhirnya belum ditetapkan.

Langkah Danantara selanjutnya akan bergantung pada perkembangan penilaian MSCI, kondisi pasar, serta hasil evaluasi terhadap aset yang tersedia. Bagi investor, kesiapan dana dapat menjadi salah satu faktor yang dicermati, tetapi bukan jaminan bahwa tekanan di bursa akan selalu diikuti pembelian saham oleh lembaga tersebut.

Pantaurakyat