Rakyat Memantau Setiap Kejadian Di Negara

Ekonomi

Emas dan Perak Tertekan, Harga Sentuh Level Terendah

Harga emas dan perak dunia sama-sama merosot pada Rabu, 7 Oktober 2026, hingga menyentuh level terendah dalam dua bulan. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil Treasury menekan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

Merujuk data Refinitiv, emas ditutup pada US$ 4.110,55 per troy ons, turun 1,3 persen. Penurunan itu membawa harga emas ke posisi terendah sejak 4 Agustus 2026.

Tekanan belum mereda pada perdagangan Kamis pagi. Pada pukul 06.19 WIB, harga emas tercatat melemah 0,03 persen ke US$ 4.110,01 per troy ons. Pada waktu yang sama, perak turun lebih dalam.

Dolar dan imbal hasil Treasury menekan emas

Indeks dolar AS, DXY, menguat 0,4 persen ke 102,42. Karena emas dihargai dalam dolar, penguatan mata uang tersebut membuat logam mulia lebih mahal bagi pemegang mata uang lain dan dapat mengurangi minat beli.

Di saat bersamaan, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada pada level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Kenaikan imbal hasil menambah tekanan bagi emas, yang tidak memberikan bunga atau pembayaran berkala kepada pemiliknya.

Pasar secara luas memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada rapat akhir Oktober. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih diperhitungkan sebesar 85 persen, berdasarkan perangkat CME FedWatch.

Ekspektasi suku bunga tinggi turut menopang dolar dan imbal hasil obligasi. Peter Grant, Vice President sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, menilai pesan kebijakan yang muncul mengarah pada suku bunga tinggi untuk waktu lebih lama.

“Saya pikir pesannya adalah suku bunga akan tetap lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Hal ini membuat yield dan dolar tetap mendapat dukungan,” kata Grant, dikutip dari Refinitiv.

Prospek kebijakan The Fed masih membayangi

Sejumlah pejabat bank sentral AS juga menyampaikan sinyal bahwa perjuangan melawan inflasi belum selesai. Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City, Jeff Schmid, mengatakan upaya menekan inflasi mungkin membutuhkan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary Daly, menyatakan arah kebijakan moneter akan bergantung pada apakah tekanan inflasi terus berlanjut. Risalah rapat The Fed turut mengindikasikan bank sentral masih dapat menaikkan suku bunga sekali lagi tahun ini.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik emas. Logam mulia itu tidak menghasilkan imbal hasil, sehingga relatif kurang menarik ketika instrumen lain menawarkan keuntungan dari tingkat bunga yang meningkat.

Meski demikian, tekanan pada harga belum sepenuhnya menghapus faktor penopang. Data resmi menunjukkan bank sentral China kembali meningkatkan pembelian emas pada September. Langkah itu memperpanjang aksi beli berturut-turut menjadi 23 bulan.

Perak turun lebih dalam, emas masih diuji

Grant menyebut permintaan bank sentral sebagai salah satu faktor utama yang menopang harga emas. Ia memperkirakan harga masih mungkin mengalami pengujian ke bawah, bahkan menuju US$ 4.000 per troy ons, sebelum berpeluang pulih menjelang akhir tahun.

Dalam perkiraannya, pemulihan tersebut berpotensi membawa emas ke US$ 4.400 per troy ons. Namun, proyeksi itu disampaikan di tengah ketidakpastian arah suku bunga dan tekanan yang masih datang dari dolar serta imbal hasil Treasury.

Perak mengalami penurunan lebih tajam dibandingkan emas. Harga logam tersebut ditutup di US$ 60,15 per troy ons pada Rabu, anjlok 2,5 persen dan menembus level terendah dalam dua bulan.

Pada Kamis pukul 06.19 WIB, harga perak kembali melemah 0,61 persen ke US$ 59,78 per troy ons. Dengan demikian, harganya terlempar dari level US$ 60.

Pergerakan berikutnya akan dipengaruhi oleh tarik-menarik antara ekspektasi suku bunga, arah dolar dan imbal hasil obligasi, serta permintaan bank sentral. Bagi pasar logam mulia, perubahan sinyal inflasi dan kebijakan The Fed akan tetap menjadi perhatian dalam menentukan apakah tekanan harga berlanjut atau mulai mereda.

Pantaurakyat