Rakyat Memantau Setiap Kejadian Di Negara

Ekonomi

IHSG Tertekan, Minyak Brent Tembus US$104

IHSG turun 1,88 persen ke level 6.031,28 pada penutupan perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026. Tekanan datang bersamaan dengan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp867,27 miliar dan kenaikan harga minyak Brent hingga US$104,13 per barel. Di tengah gejolak pasar, investor mencermati perkembangan suku bunga global dan sejumlah instrumen investasi, termasuk SBR015, reksadana, serta emas.

Penurunan indeks itu memperpanjang pelemahan IHSG menjadi 9,8 persen sejak 8 September. Pergerakan aset lain juga menunjukkan tekanan: rupiah melemah tipis 0,08 persen ke Rp17.888 per dolar AS, sementara imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,236 persen dari 7,168 persen sehari sebelumnya.

Emas dunia bergerak berlawanan arah dengan saham. Harganya naik 0,60 persen ke US$4.133,10 per ons pada Kamis, meski masih turun 5,11 persen dibandingkan sebulan sebelumnya. Perubahan sejumlah aset tersebut menjadi gambaran bahwa pelaku pasar tengah berhati-hati menghadapi risiko.

Tekanan IHSG meluas, investor asing melepas saham

Pelemahan IHSG terjadi pada sebagian besar saham. Sebanyak 518 saham turun, sedangkan 187 saham menguat. Sektor infrastruktur, energi, dan material dasar memimpin penurunan.

Investor asing mencatat jual bersih Rp867,27 miliar. Saham BBRI dan BMRI menjadi dua saham dengan tekanan jual asing terbesar, menurut data yang dihimpun Bareksa. Pada saat yang sama, bursa Asia melemah setelah risalah rapat bank sentral Amerika Serikat, The Fed, membuka peluang kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun.

Kenaikan imbal hasil SBN dan pelemahan tipis rupiah turut mengiringi koreksi saham. Bareksa menilai pergerakan tersebut mencerminkan kecenderungan investor menghindari aset berisiko. IHSG tercatat sebagai aset utama Indonesia dengan penurunan harian terbesar pada perdagangan itu.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada sejumlah agenda global dan domestik. Di antaranya, data inflasi AS September yang dijadwalkan rilis pada 14 Oktober waktu setempat, rapat The Fed pada 28 Oktober, pemilu sela AS pada 3 November, serta keputusan MSCI mengenai pasar Indonesia pada November. Ketegangan AS-Iran di sekitar Selat Hormuz juga masuk dalam daftar risiko yang dipantau.

Harga minyak dan arah suku bunga jadi perhatian

Harga minyak Brent naik 3,92 persen ke US$104,13 per barel. Kenaikan itu terjadi setelah serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz. Sejak 8 September, Brent telah menguat 6,34 persen.

Minyak yang lebih mahal berpotensi mendorong inflasi. Jika tekanan harga meningkat, suku bunga dapat bertahan tinggi lebih lama. Risalah The Fed yang mengindikasikan kemungkinan kenaikan bunga kembali menjadi salah satu alasan pasar mencermati arah kebijakan bank sentral AS, meski keputusan pada pertemuan mendatang belum pasti.

Emas, sebaliknya, menguat pada hari ketika saham tertekan. Aset tersebut dicari sebagai pelindung nilai saat ketidakpastian meningkat, meskipun pergerakan dalam sebulan terakhir masih mencatat penurunan. Karena itu, perubahan harga harian tidak dengan sendirinya menggambarkan kinerja jangka panjang.

SBR015, reksadana, dan emas untuk dicermati

Bareksa menyebut SBR015 sebagai salah satu instrumen yang dapat dicermati untuk menempatkan dana di tengah gejolak pasar. Masa penawarannya berlangsung 28 September hingga 22 Oktober 2026. Surat Berharga Negara Ritel ini memiliki kupon mengambang dengan batas minimal dan disebut menawarkan kupon tertinggi untuk seri SBR sejak 2020.

Untuk kebutuhan jangka pendek, reksadana pasar uang dapat dipertimbangkan karena berinvestasi pada instrumen berjangka pendek dan relatif mudah dicairkan. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap dapat dicermati untuk tujuan jangka menengah dengan pembelian bertahap. Nilainya tetap dapat berfluktuasi mengikuti perubahan imbal hasil obligasi.

Reksadana campuran menggabungkan saham, obligasi, dan instrumen pasar uang sehingga pergerakannya dapat lebih berfluktuasi. Pada 8 Oktober, produk dalam kategori ini turut turun lebih dari 1 persen mengikuti pelemahan saham. Pendekatan mencicil pembelian dapat dipertimbangkan untuk tujuan investasi tiga tahun ke atas, sesuai profil risiko masing-masing.

Untuk emas, Bareksa mencatat pembelian rutin dalam jumlah bertahap atau dollar cost averaging sebagai salah satu pendekatan yang dapat dicermati untuk tujuan jangka panjang. Namun, semua instrumen memiliki risiko dan hasil masa lalu tidak menjamin kinerja mendatang. Investor perlu menyesuaikan pilihan dengan tujuan, jangka waktu, serta toleransi terhadap perubahan nilai, sambil mengikuti perkembangan pasar dan kebijakan suku bunga.

Pantaurakyat