Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan membuka tiga pelatihan bagi tenaga kesehatan di Banjarbaru, Senin (12/10/2026). Program ini mencakup penanganan malaria, pengendalian penyakit tidak menular, serta pelayanan kesehatan ibu dan bayi—tiga bidang yang menghadapi tantangan berbeda di provinsi tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kalsel Diauddin mengatakan, penguatan kapasitas tenaga kesehatan diperlukan agar masyarakat memperoleh layanan bermutu, mulai dari pencegahan dan deteksi dini hingga penanganan penyakit. Pelatihan juga ditujukan untuk mendukung keselamatan ibu dan bayi.
Langkah itu berangkat dari sejumlah persoalan kesehatan yang masih perlu mendapat perhatian. Profil Kesehatan Provinsi Kalsel Tahun 2024 mencatat 84 kasus kematian ibu, sementara prevalensi hipertensi pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 35,8 persen berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
Tiga pelatihan menyasar kebutuhan kesehatan daerah
Pelatihan pertama membahas tata laksana malaria bagi tenaga medis di fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan ini difasilitasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin. Meski jumlah kasus malaria di Kalsel relatif rendah, Diauddin mengingatkan bahwa kewaspadaan tidak boleh surut.
Data Profil Kesehatan Provinsi Kalsel Tahun 2024 menunjukkan angka Annual Parasite Incidence (API) malaria sekitar 0,1 per 1.000 penduduk. Capaian tersebut, menurut Diauddin, perlu dijaga melalui surveilans yang kuat, penemuan kasus secara dini, pemeriksaan akurat, dan penanganan sesuai standar.
Tenaga medis perlu mampu mengenali gejala dan faktor risiko, menetapkan diagnosis dengan tepat, serta memberikan pengobatan sesuai kondisi pasien. Penanganan setiap kasus juga harus ditindaklanjuti secara optimal agar tidak memicu penularan kembali.
“Kita tidak boleh lengah ketika angka kasus relatif rendah. Keterlambatan diagnosis dan penanganan kasus yang tidak tuntas dapat meningkatkan risiko penularan kembali,” kata Diauddin.
Pelatihan kedua adalah Pelayanan Terpadu Penyakit Tidak Menular (PANDU PTM) bagi petugas pelaksana program di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin memfasilitasi kegiatan ini. Peserta diharapkan memperkuat skrining, pemantauan pasien, edukasi perilaku hidup sehat, serta tindak lanjut dan rujukan sesuai kebutuhan.
Hipertensi dan kematian ibu jadi perhatian
Prevalensi hipertensi sebesar 35,8 persen menunjukkan besarnya kebutuhan pengendalian penyakit tidak menular. Diauddin menekankan bahwa upaya tersebut tidak cukup dilakukan setelah seseorang jatuh sakit. Pencegahan perlu berjalan berkelanjutan, antara lain melalui pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, menghindari rokok, dan pemeriksaan kesehatan berkala.
Menurut dia, layanan PTM harus terintegrasi dan berkesinambungan. Deteksi dini serta pengendalian faktor risiko menjadi bagian penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga masyarakat tetap sehat serta produktif.
Pelatihan ketiga menyasar bidan di FKTP, dengan materi pelayanan antenatal, persalinan, masa nifas, dan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Kegiatan Angkatan 2 ini difasilitasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Laut.
Catatan 84 kasus kematian ibu di Kalsel pada 2024 menjadi pengingat bahwa pelayanan maternal perlu dijaga di setiap tahap. Pemeriksaan selama kehamilan, deteksi faktor risiko, persiapan persalinan, penanganan komplikasi, hingga pemantauan setelah melahirkan membutuhkan perhatian yang konsisten.
Bidan memiliki posisi strategis karena berhubungan dekat dengan masyarakat. Kompetensi mereka berpengaruh pada ketepatan pelayanan, kemampuan mengenali tanda bahaya, dan kecepatan merujuk pasien ketika dibutuhkan penanganan lebih lanjut.
Pelatihan juga mencakup penguatan SHK bagi bayi baru lahir. Skrining dan penanganan dini diperlukan untuk mengurangi risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Kompetensi tenaga kesehatan perlu dijaga
Diauddin menyebut mutu program kesehatan sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia, tata kelola pelayanan, dan koordinasi antartenaga kesehatan. Karena itu, peningkatan kapasitas perlu terus dilakukan agar layanan sesuai standar dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Tiga pelatihan tersebut menghubungkan pengendalian penyakit menular dan tidak menular dengan perbaikan layanan ibu dan anak. Dampaknya akan ditentukan oleh penerapan keterampilan di fasilitas kesehatan, termasuk konsistensi skrining, ketepatan penanganan, dan tindak lanjut pasien.
Dengan angka malaria yang relatif rendah sekaligus tingginya beban hipertensi dan catatan kematian ibu, penguatan layanan tidak berhenti pada pelatihan. Pemantauan berkelanjutan dan koordinasi tenaga kesehatan menjadi langkah berikutnya agar peningkatan kompetensi dapat dirasakan masyarakat Kalsel.